Sosiologi Antropologi

News

view:  full / summary

Antropologi

Posted by M. Zainal AF on December 30, 2010 at 5:25 AM Comments comments (0)

Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa.

Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.


Pengertian

Antropologi berasal dari kata Yunani "anthropos" yang berarti "manusia" atau "orang", dan "logos" yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.

Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan antropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan/perbedaan budaya antar manusia. Walaupun begitu sisi ini banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi sehingga metode antropologi sekarang seringkali dilakukan pada pemusatan penelitian pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal.


Definisi Antropologi menurut para ahli


William A. Havilland: Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keaneka ragaman manusia.


David Hunter: Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.


Koentjaraningrat: Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.

Daridefinisi-definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Dengan demikain, antropologi merupakan hal yang mempelajari seluk-beluk yang terjadi dalam kehidupan manusia. Dapat dilihat dari perkembang pada masa saat ini, yang merupakan salah dari fenomena-fenomena yang terjadi ditengah- tengah masyarakat sekarang ini.


Sejarah

Sepertihalnya sosiologi, antropologi sebagai sebuah ilmu juga mengalami tahapan-tahapan dalam perkembangannya.

Koentjaraningrat menyusun perkembangan ilmu Antropologi menjadi empat fase sebagai berikut:


Fase Pertama (Sebelum tahun 1800-an)

Sekitar abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hinggake Australia. Dalam penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-hal baru. Mereka juga banyak menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut. Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnografi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa.

Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di Eropa. Kemudian, pada permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar. Karena itu, timbul usaha-usaha untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi.


Fase Kedua (tahun 1800-an)

Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan berdasarkan cara berfikir evolusi masyarakat pada saat itu. Masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Mereka menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya

Pada fase ini, Antopologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia.


Fase Ketiga (awal abad ke-20)

Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benualain seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara Eropa berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian menaklukannya. Untuk itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan pemerintah kolonial.


Fase Keempat (setelah tahun 1930-an)

Pada fase ini, Antropologi berkembang secara pesat. Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli yang di jajah bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa.

Padamasa ini pula terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II. Perang ini membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian besar negara-negara didunia kepada kehancuran total. Kehancuran itu menghasilkan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kesengsaraan yang tak berujung.

Namun pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang dijajah Eropauntuk keluar dari belenggu penjajahan. Sebagian dari bangsa-bangsa tersebut berhasil merdeka. Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam dendam terhadap bangsa Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-tahun.

Proses-proses perubahan tersebut menyebabkan perhatian ilmu antropologi tidak lagi ditujukan kepada penduduk pedesaan di luar Eropa, tetapi juga kepada suku bangsa didaerah pedalaman Eropa seperti suku bangsa Soami, Flam dan Lapp.

 


Sosiologi

Posted by M. Zainal AF on December 30, 2010 at 1:05 AM Comments comments (0)

Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan.Ungkapan ini dipublikasikan diungkapkan pertama kalinya dalam buku yangberjudul "Cours De Philosophie Positive" karangan AugustComte (1798-1857). Walaupun banyak definisi tentangsosiologi namun umumnya sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuantentang masyarakat.

Masyarakat adalah sekelompok individuyang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya.Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilakusosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya. Sebagaisebuah ilmu,sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasilpemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.

Kelompok tersebut mencakup keluarga,sukubangsa, negara,dan berbagai organisasi politik, ekonomi,sosial.


Sejarah istilah sosiologi:

1842: Istilah Sosiologi sebagai cabang Ilmu Sosialdicetuskan pertama kali oleh ilmuwan Perancis,bernama August Comte tahun 1842 dan kemudian dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari tentang masyarakat lahir di Eropa karena ilmuwan Eropa pada abad ke-19 mulai menyadari perlunya secara khususmempelajari kondisi dan perubahan sosial. Para ilmuwan itukemudian berupaya membangun suatu teori sosial berdasarkan ciri-ciri hakiki masyarakat pada tiap tahap peradaban manusia. Comte membedakan antara sosiologi statis, dimanaperhatian dipusatkan pada hukum-hukum statis yang menjadi dasar adanya masyarakatdan sosiologi dinamis dimana perhatiandipusatkan tentang perkembangan masyarakat dalam arti pembangunan. RintisanComte tersebut disambut hangat oleh masyarakat luas, tampak dari tampilnya sejumlah ilmuwan besar dibidang sosiologi. Mereka antara lain Herbert Spencer, KarlMarx, Emile Durkheim, Ferdinand Tönnies, Georg Simmel, Max Weber, dan Pitirim Sorokin(semuanyaberasal dari Eropa). Masing-masing berjasa besar menyumbangkan beragam pendekatan mempelajari masyarakat yang amat berguna untuk perkembangan Sosiologi.

ÉmileDurkheim — ilmuwan sosial Perancis — berhasil melembagakan Sosiologisebagai disiplin akademis. Emile memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yang berupaya menelusuri fungsi berbagai elemen sosial sebagai pengikat sekaligus pemelihara keteraturan sosial.

1876: Di Inggris Herbert Spencer mempublikasikan Sosiology dan memperkenalkan pendekatan analogiorganik, yang memahami masyarakat seperti tubuh manusia, sebagai suatu organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang tergantung satu sama lain.

Karl Marx memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis, yang menganggap konflik antar-kelas sosial menjadi intisari perubahan dan perkembangan masyarakat.

Max Weber memperkenalkan pendekatan verstehen (pemahaman), yang berupaya menelusuri nilai, kepercayaan, tujuan, dan sikap yang menjadi penuntun perilaku manusia.

Di Amerika Lester F. Ward mempublikasikan Dynamic Sosiology.


Pokok bahasan sosiologiPokok bahasan sosiolgi ada empat:

  1. Fakta sosial sebagai cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang beradadi luar individu dan mempunya kekuatan memaksa dan mengendalikan individu tersebut. Contoh, di sekolah seorangmurid diwajidkan untuk datang tepat waktu, menggunakan seragam, dan bersikap hormat kepada guru. Kewajiban-kewajiban tersebut dituangkan ke dalam sebuah aturan dan memilikisanksi tertentu jika dilanggar. Dari contoh tersebut bisa dilihat adanya cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang ada di luar individu (sekolah), yang bersifat memaksa dan mengendalikan individu (murid).
  2. Tindakan sosial sebagai tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain. Contoh, menanam bunga untuk kesenangan pribadi bukan merupakan tindakan sosial, tetapi menanam bunga untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba sehingga mendapat perhatian orang lain, merupakan tindakan sosial.
  3. Khayalan sosiologis sebagai cara untuk memahami apa yang terjadi di masyarakat maupun yang ada dalam diri manusia. Menurut Wright Mills,dengan khayalan sosiologi, kita mampu memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Alat untuk melakukankhayalan sosiologis adalah persmasalahan (troubles) dan isu (issues). Permasalahan pribadi individu merupakan ancaman terhadap nilai-nilai pribadi. Isu merupakan hal yang ada di luar jangkauan kehidupan pribadi individu. Contoh, jika suatu daerah hanya memiliki satu orang yang menganggur, maka pengangguran itu adalah masalah. Masalah individual ini pemecahannya bisa lewat peningkatan keterampilan pribadi. Sementara jika di kota tersebut ada 12 juta penduduk yang menganggur dari 18 juta jiwa yang ada, maka pengangguran tersebut merupakan isu, yang pemecahannya menuntut kajian lebih luas lagi.
  4. Realitas sosial adalah penungkapan tabir menjadi suatu realitas yang tidak terduga oleh sosiolog dengan mengikuti aturan-aturan ilmiah dan melakukan pembuktian secara ilmiah dan objektif dengan pengendalian prasangka pribadi, dan pengamatan tabir secara jeli serta menghindari penilaian normatif.

Ciri-Ciri dan Hakikat Sosiologi

Sosiologi merupakan salah satu bidang ilmu sosial yang mempelajari masyarakat. Sosiologi sebagai ilmu telah memenuhi semua unsur ilmu pengetahuan. Menurut Harry M. Johnson, yang dikutip oleh Soerjono Soekanto, sosiologi sebagai ilmu mempunyaiciri-ciri, sebagai berikut:

  • Empiris, yaitu didasarkan pada observasi dan akalsehat yang hasilnya tidak bersifat spekulasi (menduga-duga).
  • Teoritis, yaitu selaluberusaha menyusun abstraksi dari hasil observasi yang konkret di lapangan, danabstraksi tersebut merupakan kerangka dari unsur-unsur yang tersusun secaralogis dan bertujuan menjalankan hubungan sebab akibat sehingga menjadi teori.
  • Komulatif, yaitu disusunatas dasar teori-teori yang sudah ada, kemudian diperbaiki, diperluas sehinggamemperkuat teori-teori yang lama.
  • Nonetis, yaitu pembahasansuatu masalah tidak mempersoalkan baik atau buruk masalah tersebut, tetapilebih bertujuan untuk menjelaskan masalah tersebut secara mendalam.

Hakikat sosiologi sebagai ilmu pengetahuansebagai berikut.

  • Sosiologi adalah ilmu sosial karena yangdipelajari adalah gejala-gejala kemasyarakatan.
  • Sosiologi termasuk disiplin ilmu normatif, bukanmerupakan disiplin ilmu kategori yang membatasi diri pada kejadian saat ini danbukan apa yang terjadi atau seharusnya terjadi.
  • Sosiologi termasuk ilmu pengetahuan murni (purescience) dan ilmu pengetahuan terapan.
  • Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan abstrak danbukan ilmu pengetahuan konkret. Artinya yang menjadi perhatian adalah bentukdan pola peristiwa dalam masyarakat secara menyeluruh, bukan hanya peristiwaitu sendiri.
  • Sosiologi bertujuan menghasilkan pengertian danpola-pola umum, serta mencari prinsip-prinsip dan hukum-hukum umum dariinteraksi manusia, sifat, hakikat, bentuk, isi, dan struktur masyarakatmanusia.
  • Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yangempiris dan rasional. Hal ini menyangkut metode yang digunakan.
  • Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan umum,artinya sosiologi mempunyai gejala-gejala umum yang ada pada interaksi antaramanusia.

Objek SosiologiSosiologi

Sebagai ilmu pengetahuan mempunyai beberapa objek.

Objek Material

Objek material sosiologi adalah kehidupan sosial, gejala-gejala dan proses hubungan antara manusia yang memengaruhi kesatuan manusia itu sendiri.

Objek Formal

Objek formal sosiologi lebih ditekankan padamanusia sebagai makhluk sosial atau masyarakat. Dengan demikian objek formal sosiologi adalah hubungan manusia antara manusia serta proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat.

Objek budaya

Objek budaya salah satu faktor yang dapatmempengaruhi hubungan satu dengan yang lain.

Objek Agama

Pengaruh dari objek dari agama ini dapat menjadi pemicu dalam hubungan sosail masyarakat dan banyak juga hal-hal ataupaun dampak yang mempengaruhi hubungan manusia.


Ruang Lingkup KajianSosiologi

Sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi mengkaji lebih mendalam pada bidangnya dengan cara bervariasi. Misalnya seorang sosiologi mengkaji dan mengamati kenakalan remaja di Indonesia saat ini, mereka akan mengkaji mengapa remaja tersebut nakal, mulai kapan remaja tersebut berperilaku nakal, sampai memberikan alternatif pemecahan masalah tersebut. Hampir semua gejala sosial yang terjadi di desa maupun di kota baik individu ataupun kelompok, merupakan ruang kajian yang cocok bagi sosiologi, asalkan menggunakan prosedur ilmiah. Ruang lingkup kajian sosiologi lebih luas dari ilmu sosial lainnya. Hal ini dikarenakan ruang lingkup sosiologi mencakup semua interaksi sosial yang berlangsung antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok di lingkugan masyarakat. Ruang lingkup kajiansosiologi tersebut jika dirincikan menjadi beberapa hal, misalnya antara lain:

  • Ekonomi beserta kegiatan usahanya secaraprinsipil yang berhubungan dengan produksi, distribusi,dan penggunaansumber-sumber kekayaan alam;
  • Masalah manajemen yaitu pihak-pihak yang membuatkajian, berkaitan dengan apa yang dialami warganya;
  • Persoalan sejarah yaitu berhubungan dengancatatan kronologis, misalnya usaha kegiatan manusia beserta prestasinya yangtercatat, dan sebagainya.

Sosiologi menggabungkan data dari berbagai ilmu pengetahuan sebagai dasar penelitiannya. Dengan demikian sosiologi dapat dihubungkan dengan kejadian sejarah, sepanjang kejadian itu memberikan keterangan beserta uraian proses berlangsungnya hidup kelompok-kelompok, atau beberapa peristiwa dalam perjalanan sejarah dari kelompok manusia. Sebagai contoh, riwayat suatu negara dapat dipelajari dengan mengungkapkan latar belakang terbentuknya suatu negara, faktor-faktor, prinsip-prinsip suatu negara sampai perjalanan negara di masa yang akan datang. Sosiologi mempertumbuhkan semua lingkungan dan kebiasaan manusia, sepanjang kenyataan yang ada dalam kehidupan manusia dan dapat memengaruhi pengalaman yang dirasakan manusia,serta proses dalam kelompoknya. Selama kelompok itu ada, maka selama itu pula akan terlihat bentuk-bentuk, cara-cara, standar, mekanisme, masalah, dan perkembangan sifat kelompok tersebut. Semua faktor tersebut dapat memengaruhi hubungan antara manusia dan berpengaruh terhadap analisis sosiologi.


Perkembangan sosiologi dari abad ke abad

Perkembangan pada abad pencerahan

Banyak ilmuwan-ilmuwan besar pada zaman dahulu,seperti Sokrates,Plato dan Aristoteles beranggapan bahwa manusia terbentuk begitu saja. Tanpa ada yang bisa mencegah, masyarakat mengalami perkembangan dan kemunduran.

Pendapat itu kemudian ditegaskan lagi oleh parapemikir di abad pertengahan, seperti Agustinus, Ibnu Sina, dan Thomas Aquinas. Mereka berpendapat bahwa sebagai makhluk hidup yang fana, manusia tidak bisa mengetahui, apalagi menentukan apa yang akan terjadi dengan masyarakatnya. Pertanyaan dan pertanggungjawaban ilmiah tentang perubahan masyarakat belum terpikirkan pada masa ini.

Berkembangnya ilmu pengetahuandi abad pencerahan (sekitar abadke-17 M), turut berpengaruh terhadap pandangan mengenai perubahan masyarakat,ciri-ciri ilmiah mulai tampak di abad ini. Para ahli di zaman itu berpendapat bahwa pandangan mengenai perubahan masyarakat harus berpedoman pada akal budi manusia.

Pengaruh perubahan yangterjadi di abad pencerahan

Perubahan-perubahan besar di abad pencerahan, terus berkembang secara revolusioner sapanjang abad ke-18 M. Dengan cepat struktur masyarakat lama berganti dengan struktur yang lebih baru. Hal ini terlihat dengan jelas terutama dalam revolusi Amerika, revolusi industri, dan revolusi Perancis. Gejolak-gejolak yang diakibatkan oleh ketiga revolusi ini terasa pengaruhnya di seluruh dunia. Para ilmuwan tergugah, mereka mulai menyadari pentingnya menganalisis perubahan dalam masyarakat.

Gejolak abad revolusi

Perubahan yang terjadi akibat revolusi benar-benar mencengangkan. Struktur masyarakat yang sudah berlaku ratusan tahun rusak. Bangasawan dan kaum Rohaniwan yang semula bergemilang harta dan kekuasaan, disetarakan haknya dengan rakyat jelata. Raja yang semula berkuasa penuh, kini harus memimpin berdasarkan undang-undang yang di tetapkan. Banyak kerajaan-kerajaan besar di Eropa yang jatuh dan terpecah.

Revolusi Perancis berhasilmengubah struktur masyarakat feodal ke masyarakat yang bebas

Gejolak abad revolusi itu mulai menggugah parai lmuwan pada pemikiran bahwa perubahan masyarakat harus dapat dianalisis. Mereka telah menyakikan betapa perubahan masyarakat yang besar telah membawa banyak korban berupa perang, kemiskinan,pemberontakan dan kerusuhan. Bencana itu dapat dicegah sekiranya perubahan masyarakat sudah diantisipasi secara dini.

Perubahan drastis yang terjadi semasa abad revolusi menguatkan pandangan betapa perlunya penjelasan rasional terhadap perubahan besar dalam masyarakat. Artinya :

  • Perubahan masyarakat bukan merupakan nasib yang harus diterima begitu saja, melainkan dapat diketahui penyebab dan akibatnya.
  • Harus dicari metode ilmiah yang jelas agar dapat menjadi alat bantu untuk menjelaskan perubahan dalam masyarakat dengan bukti-bukti yang kuat serta masuk akal.
  • Dengan metode ilmiah yang tepat (penelitian berulang kali, penjelasan yang teliti, dan perumusan teori berdasarkan pembuktian), perubahan masyarakat sudah dapat diantisipasi sebelumnya sehingga krisis sosial yang parah dapat dicegah.

Kelahiran sosiologimodern

Sosiologi modern tumbuh pesat di benua Amerika, tepatnya di Amerika Serikat dan Kanada. Mengapa bukan di Eropa? (yang notabene merupakan tempat dimana sosiologi muncul pertama kalinya).

Pada permulaan abad ke-20, gelombang besar imigran berdatangan ke Amerika Utara. Gejala itu berakibat pesatnya pertumbuhan penduduk, munculnya kota-kota industribaru, bertambahnya kriminalitas dan lain lain. Konsekuensi gejolak sosial itu, perubahan besar masyarakat pun tak terelakkan.

Perubahan masyarakat itu menggugah para ilmuwan sosial untuk berpikir keras, untuk sampai pada kesadaran bahwa pendekatan sosiologi lama ala Eropa tidak relevan lagi. Mereka berupaya menemukan pendekatan baru yang sesuai dengan kondisi masyarakat pada saat itu. Maka lahirlah sosiologi modern.

Berkebalikan dengan pendapat sebelumnya, pendekatan sosiologi modern cenderung mikro (lebih sering disebut pendekatan empiris). Artinya, perubahan masyarakat dapat dipelajari mulai dari fakta sosial demi fakta sosial yang muncul. Berdasarkan fakta sosial itu dapat ditarik kesimpulan perubahan masyarakat secara menyeluruh. Sejak saat itulah disadari betapa pentingnya penelitian (research)dalam sosiologi.

 

KOMPETENSI GURU YANG BAIK

Posted by M. Zainal AF on December 29, 2010 at 8:09 PM Comments comments (0)

KOMPETENSI GURU YANG BAIK 


Terdapat banyak sekali resep mengenai kompetensi guru. Telah diakui bahwa guru perlu kompeten dalam sejumlah besar keterampilan pedagogi dan bahwa keterampilan-keterampilan itu akan berada menurut kebutuhan para siswanya dan keadaan ruang kelasnya. Namun disamping kompetensi khusus yang berbeda-beda yang diperlukan oleh guru dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat, riset menyarankan bahwa ada beberapa kompetensi umum yang diperlukan oleh semua guru jika mereka ingin efektif. Adalah mungkin untuk meringkas riset itu dalam suatu cara yang mungkin berguna selagi kita mencoba untuk meningkatkan kualitas suatu pengajaran di ruang kelas kita.


GURU SEBELUM DAN SESUDAH PELAJARAN :

  1. Dapat mengevaluasi latar belakang individual dari para siswa dan mendiaknosa kebutuhan-kebutuhan siswa.
  2. Dapat mengorganisasikan ruang kelas dengan perencanaan tugas-tugas rutin, mengelompokan para siswa berdasarkan basis yang layak, dan membuat sumber-sumber belajar dapat diakses.
  3. Dapat mengidentifikasi tujuan-tujuan yang jelas dan menetapkan tujuan-tujuan khusus, dan kemudian melakukan penilaian terhadap pelajaran secara selayaknya dan melakukan perbaikan kapanpun diperlukan.
  4. Dapat merencanakan pelajaran setiap hari untuk memberikan  kontribusi bagi tujuan jangka panjang.

GURU SELAMA PELAJARAN BERLANGSUNG :

  1. Dapat berhubungan dengan siswa secara individual.
  2. Dapat menilai kesiapan siswa untuk belajar dalam hal motivasi dan pengetahuan sebelumnya.
  3. Dapat menjadi sumber belajar yang kaya bagi para siswa dalam arti guru tersebut mengetahui mata pelajaran yang diajarkannya secara menyeluruh.
  4. Dapat memberikan intruksi yang jelas dan dapat mengajukan pertanyaan dengan urutan yang lebih tinggi.
  5. Dapat merangsang siswa untuk bertanya dan memberikan ide-ide untuk mereka.
  6. Dapat memberikan respon kepada siswa dan memberikan bantuan ketika diperlukan.
  7. Dapat menentang siswa untuk berfikir sendiri melalui intruksi yang induktif dan deduktif.
  8. Dapat mempergunakan variasi strategi mengajar dan sumber-sumber belajar yang cocok untuk pelajaran tersebut.
  9. Dapat mengelola lingkungan belajar, termasuk mengatasi segala prilaku siswa.
  10. Dapat membangun citra diri dari siswa melalui penguatan yang positif.
  11. Dapat memonitor kemajuan pelajaran dan dapat melakukan modifikasi terhadap rencana-rencana ditempat.

GURU SEBAGAI SEORANG PROFESIONAL

  1. Dapat bekerja secara baik dengan rekan sekerja (meskipun ada perbedaan pendapat).
  2. Dapat mengevaluasi pengajarannya sendiri baik secara resmi maupun tidak resmi.
  3. Dapat mengubah metode pengajaran atas adanya temuan-temuan.
  4. Dapat mengevaluasi program sekolah secara keseluruhan dan memberikan sumbangan kearah perbaikannya.
  5. Dapat secara sukses menjalani program pengembangan professional secara periodik.
  6. Dapat menjadi contoh dalam prilaku profesionalnya di masyarakat.
  7. Dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan dan diakui serta dihargainya pekerjaan mengajar sebagai suatu profesi.

PENGARUH MEDIA MASSA TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL

Posted by M. Zainal AF on December 29, 2010 at 7:42 PM Comments comments (0)

PENGARUH MEDIA MASSA TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL


Komunikasi massamulai bersifat komersial sejak tahun 1922. Pada saat itu stasiun radio WEAF diNew York, Amerika Serikat untuk pertma kalinya menerima upah dari pemasangiklan. Sebelumnya, sumber pendapatan stasiun radio adalah dari penjualanpesawat radio atau dibiayai oleh pemerintah. Sejak saat itu, banyak bermunculanstasiun radio dengan acara-acara yang dibiayai oleh pemasang iklan. Akibatnya,isi dan sifat acara cenderung disesuaikan dengan keinginan pemasang iklan ataupemasang iklan cenderung mendukung acara yang popular di masyarakat, tidakpeduli apakah isi dan sifat acara itu baik atau buruk. Karena, yang palingpenting bagi pemasang iklan adalah luasnya pendengar atau pemirsa. Semakin luassuatu acara digemari masyarakat, berarti semakin banyak orang mendengarkaniklan yang disiarkan.


Sementara itu,sarana komunikasi massa semakin berkembang. Di samping radio ada pula televisi.Sejak tahun 1960, satelit komunikasi telah mengorbit dan mampu meneruskaninformasi yang dipancarkan dari permukaan bumi. Satelit mampu meneruskan sinyaltelevisi, radio, telegraf, dan telepon. Sebelumnya, sinyal televisi dan radio hanyadapat diteruskan melalui kabel atau menara-menara pemancar.


Jaringan sistemkomunikasi elektronik yang terdiri dari telepon, televisi, dan komputer akanmembentuk sistem komunikasi super cepat. Dengan jaringan komunikasi sepertiitu, orang dengan sangat mudah dan cepat memperoleh informasi dalam berbagaibentuk dan sumber yang beragam. Berbagai data, suara, dan gambar dapatdiperoleh dengan mudah dan cepat untuk kepentingan sehari-hari dirumah,pendidikan, dan bisnis. Misalnya, hanya dengan duduk di kamar, kita bisa  membaca buku yang ada di perpustakaan diseluruh dunia. Itu semua karena adanya internet, suatu jaringan komunikasi yangmenghubungkan puluhan ribu jaringan kecil dan berjuta-juta komputer diseluruhdunia.


Kemudahan-kemudahanberkomunikasi seperti yang digambarkan di atas tidak hanya berdampak terhadapcara berkomunikasi, melainkan juga mempengaruhi cara hidup, cara belajar, dan carabekerja manusia. Sejak tahun 1930-an, para ahli sosiologi telah menyadari bahwakomunikasi massa akan berpengaruh terhadap individu dan masyarakat. Berbagai informasiyang disiarkan secara massal melalui radio, televisi, atau dimuat di surat kabar,majalah, dan internet ternyata turut membentuk opini atau pendapat masyarakatmengenai sesuatu. Contoh, pada saat Perang Dunia II, propaganda melalui mediamassa digunakan untuk mempengaruhi pendapat atau cara pandang masyarakat. Misalnya,propaganda yang dilakukan Jepang untuk merebut simpati dan dukungan bangsa Indonesiadan bangsa-bangsa lain di Asia. Mereka mempropagandakan terwujudnya Asia TimurRaya, dan menyebut Jepang sebagai Sodara Tua.


Perkembangan selanjutnya,sejak tahun 1960-an dan 1970-an, para pakar melakukan studi kultural yangbertujuan untuk mempelajari peran komunikasi dalam proses pembentukankebudayaan. Fokus kajian mereka terutama pada komunikasi massa. Komunikasi massaternyata turut berperan dalam membentuk kebudayaan.

 

 


Rss_feed